Budaya Perusahaan Hijau: Mengapa Welcome Kit Eco-Friendly Wajib untuk Gen Z?
Bayangkan skenario horor bagi tim HRD ini: Anda baru saja
berhasil merekrut seorang talenta muda terbaik—lulusan cum laude, penuh
energi, dan diperebutkan banyak perusahaan. Di hari pertamanya,
dengan bangga Anda menyerahkan welcome kit
perusahaan. Isinya standar: kaos bahan panas, pulpen plastik yang tutupnya
longgar, dan botol minum bau pabrik yang jelas-jelas tidak food grade.
Apa yang terjadi selanjutnya? Dia mungkin tersenyum sopan
dan menerimanya. Tapi di kepalanya, lampu alarm berbunyi: "Red
Flag." Malamnya, foto welcome kit itu mungkin tidak akan masuk
Instagram Story dengan caption bangga, atau malah berakhir di grup chat
teman-temannya dengan komentar sinis soal betapa "kuno" dan
"borosnya" perusahaan baru dia.
Sakit? Pasti. Tapi inilah realitas merekrut Gen Z. Bagi
generasi yang tumbuh di tengah krisis iklim ini, isu lingkungan bukan sekadar
tren gaya hidup; itu adalah nilai moral dasar. Mereka memiliki "radar
pendeteksi omong kosong" yang sangat tajam.
Memberikan tumpukan sampah plastik di hari pertama kerja
adalah cara tercepat untuk membuat mereka ilfil (hilang feeling) dan
meragukan nilai-nilai perusahaan Anda.
Artikel ini tidak membahas soal menyelamatkan penyu di laut
(meskipun itu penting). Ini membahas psikologi karyawan, retensi talenta, dan
bagaimana sebuah welcome kit ramah lingkungan bisa menjadi senjata
rahasia untuk memenangkan hati generasi tenaga kerja masa depan.
Gen Z dan "Eco-Anxiety": Mengapa Mereka Peduli?
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang melihat pekerjaan
semata-mata sebagai "cari duit", Gen Z mencari purpose
(tujuan). Riset dari Deloitte (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 60% Gen Z
bersedia menolak tawaran kerja dari perusahaan yang tidak memiliki komitmen
lingkungan yang jelas.
Mereka mengalami apa yang disebut Eco-Anxiety—kecemasan
nyata terhadap masa depan bumi. Ketika perusahaan Anda memberikan welcome
kit yang isinya barang-barang sekali pakai (disposable), secara
tidak sadar Anda sedang mengirim pesan: "Kami tidak peduli dengan masa
depanmu, kami hanya peduli keuntungan hari ini."
Sebaliknya, memberikan welcome kit yang dikurasi
dengan bijak—misalnya berisi pena bambu eksklusif yang bisa diisi ulang,
buku catatan dari kertas daur ulang,
atau tumbler stainless steel berkualitas—mengirimkan
sinyal validasi. Itu mengatakan: "Kami mengerti kecemasanmu, dan kami
berada di pihak yang sama."
Fenomena "Unboxing" sebagai Mata Uang Sosial
Mari bicara soal media sosial. Bagi Gen Z, welcome kit
kantor adalah materi konten. Coba cari tagar #NewJob atau #OnboardingKit di
LinkedIn, TikTok, atau Instagram. Anda akan melihat ribuan video unboxing.
Ini adalah pedang bermata dua. Jika kit Anda keren,
estetik, dan sustainable, karyawan baru Anda akan dengan sukarela
menjadi brand ambassador gratis. Mereka akan memamerkan (flexing)
betapa kerennya kantor baru mereka yang "ngasih tumblernya bukan
kaleng-kaleng, tapi Corkcicle atau setara!" atau "Liat deh, pulpennya
ada nama gue dan dari kayu, estetik banget!".
Ini membangun Employer Branding yang organik.
Teman-teman mereka yang melihat akan berpikir, "Wah, company-nya
thoughtful banget ya. Mau dong kerja di sana."
Sebaliknya, jika kit Anda terlihat murahan dan boros
plastik, mereka akan menyembunyikannya. Tidak ada postingan, tidak ada
kebanggaan. Anda kehilangan momen emas pemasaran gratis, dan karyawan tersebut
kehilangan kesempatan untuk merasa bangga.
Kualitas di Atas Kuantitas: Psikologi "Less is More"
Kesalahan fatal banyak perusahaan adalah berpikir bahwa
"semakin banyak isi kotaknya, semakin senang karyawannya." Salah
besar.
Memberikan 10 item murah (pulpen macet, kipas promosi,
stiker jelek, gantungan kunci karet, dll.) justru menciptakan beban mental (mental
clutter). Itu terasa seperti "nyampah".
Psikologi Gen Z lebih menghargai Minimalisme Berkualitas.
Satu buah Pena Metal Eksklusif yang beratnya pas dan tintanya lancar,
nilainya jauh lebih tinggi daripada segenggam pulpen plastik. Satu buah Totebag
Kanvas Tebal yang bisa dipakai belanja ke supermarket, nilainya jauh lebih
tinggi daripada lima tas furing tipis yang gampang sobek.
Mengapa? Karena barang berkualitas menunjukkan Respek.
Memberikan barang awet berarti Anda menghargai karyawan tersebut sebagai aset
jangka panjang, bukan tenaga kerja kontrak yang bisa diganti-ganti seperti
pulpen plastik.
Konsistensi: Jangan Jadi Munafik (Greenwashing)
Hati-hati, Gen Z sangat jeli melihat kemunafikan. Memberikan
welcome kit ramah lingkungan (misalnya sedotan stainless dan alat
makan kayu) tapi di pantry kantor masih menyediakan gelas plastik sekali pakai
untuk kopi, adalah bunuh diri citra.
Welcome kit hanyalah pintu masuk. Ia harus menjadi
representasi jujur dari budaya kantor Anda. Jika Anda memberikan Tumbler,
pastikan ada dispenser air minum yang layak dan bersih di setiap sudut kantor.
Jika Anda memberikan Notebook Daur Ulang, pastikan
kantor Anda sudah meminimalisir penggunaan kertas (paperless) untuk
administrasi cuti dan reimburse.
Jika welcome kit Anda "hijau" tapi
operasional kantor Anda "hitam", karyawan akan mencap perusahaan
sebagai Greenwashing—pencitraan palsu. Dan tidak ada yang lebih merusak
moral kerja selain rasa tidak percaya pada integritas pimpinan.
| pena-eksklusif |
Manfaat Jangka Panjang bagi Perusahaan (ROI)
Mungkin divisi pengadaan (procurement) akan protes,
"Tapi barang ramah lingkungan kan harganya lebih mahal!"
Mari kita hitung ulang Return on Investment
(ROI)-nya, bukan dari harga barang, tapi dari biaya SDM.
- Retention
(Mempertahankan Karyawan): Karyawan yang merasa bangga dan sejalan
dengan nilai perusahaan cenderung bertahan lebih lama. Biaya merekrut
ulang satu orang resign jauh lebih mahal daripada selisih harga
pulpen bambu vs plastik.
- Productivity:
Rasa memiliki (sense of belonging) memicu produktivitas.
Barang-barang berkualitas di meja kerja membuat suasana hati lebih baik.
- Brand
Image: Di era di mana konsumen juga makin sadar lingkungan, memiliki
tim yang benar-benar menerapkan gaya hidup hijau (dimulai dari welcome
kit) akan tercermin dalam produk atau layanan yang Anda hasilkan.
Pesan dalam Sebuah Kotak
Pada akhirnya, kotak welcome kit yang Anda berikan di
hari pertama itu bukan sekadar kumpulan benda mati. Itu adalah sebuah janji.
Sebuah janji bahwa di perusahaan ini, kualitas lebih penting
daripada kuantitas. Sebuah janji bahwa di perusahaan ini, dampak lingkungan
dipikirkan dengan serius. Sebuah janji bahwa karyawan yang menerimanya
diharapkan untuk tumbuh bersama, awet, dan tangguh—seperti pena metal
atau tas kanvas yang Anda berikan, bukan rapuh dan sementara seperti
plastik sekali pakai.
Jadi, untuk rekrutmen gelombang berikutnya, cobalah ubah
strategi. Kurangi jumlah itemnya, tingkatkan kualitasnya, dan pastikan setiap
barang memiliki cerita keberlanjutan.
Gen Z tidak minta gaji selangit di hari pertama (oke,
mungkin mereka minta), tapi yang paling mereka butuhkan adalah alasan untuk
percaya bahwa mereka memilih tempat yang tepat.
FAQ
Apakah Gen Z benar-benar sepeduli itu, atau cuma ikut-ikutan tren sosmed?
Apakah beralih ke welcome kit ramah lingkungan akan menghabiskan anggaran?
Perusahaan kami bergerak di bidang tambang/minyak, apakah etis memberikan eco-kit?
Barang apa yang paling berdampak psikologis buat Gen Z?
Bolehkah welcome kit diganti digital saja (voucher) biar nol sampah?
PUBLISH BY Ebert (ENS)
.webp)
.webp)
.webp)
.webp)
.webp)